Wahabi dan Al-Qaeda Menyerobot “Revolusi” Suriah

Islam Times- Tidak hanya Turki, kebijakan disintegrasi Suriah yang diinginkan Qatar dan Arab Saudi malah berdampak buruk bagi kedua negara itu karena demografi keduanya jadi mirip dengan Suriah; maraknya pemberontakan dan demonstrasi menentang kerajaan.

Pada Hari Raya Idul Adha 26 Oktober lalu, pemerintah Suriah dan pemberontak sepakat mengadakan gencatan senjata. Kesepakatan yang sejalan dengan inisiatif Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad itu disambut baik oleh Turki dan sebagian negara-negara Arab, termasuk utusan khusus PBB-Liga Arab untuk Suriah Lakhdar Brahimi yang kemudian menjadi mediator gencatan senjata.

Semula, dukungan Turki terkait proposal gencatan senjata itu dipandang bisa berperan sebagai kunci pelaksanaan perdamaian di Suriah. Sebab selama ini Turki cukup berpengaruh dalam oposisi Suriah. Selain itu, bersama dengan negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan Qatar, Turki menjadi pendukung utama (melatih dan membiayai) para pemberontak Suriah. Apalagi wilayah perbatasan Turki-Suriah menjadi basis pemberontak FSA selama ini.

Sejak krisis di Suriah terjadi, Ankara mendapat kecaman keras dari dalam negeri dan negara-negera kawasan. Dukungan Turki itu terbukti tidak hanya memperburuk situasi di Suriah, tapi negara di kawasan seperti Libanon.Ini membuktikan bahwa kebijakan Turki di Suriah gagal total. Bahkan krisis di Suriah kini menciptakan masalah baru bagi Turki, karena telah meningkatkan aaktivitas kelompok pemberontak Kurdi (PKK).

Tidak hanya Turki, kebijakan disintegrasi Suriah yang diinginkan Qatar dan Arab Saudi malah berdampak buruk bagi kedua negara itu karena demografi keduanya jadi mirip dengan Suriah; maraknya pemberontakan dan demonstrasi menentang kerajaan.

Tentara Suriah Gratis (FSA), garda depan Dewan Nasional Suriah (SNC) sebenarnya menghormati gencatan senjata yang digelar pekan lalu itu. Tapi kelompok-kelompok pemberontak bersenjata lainnya yang kini disupport Qatar, Saudi Arabia dan negara-negara Barat terutama AS, Perancis dan Inggris justru mengkhianati kesepakatan itu lewat operasi teroris. Hal ini membuktikan bahwa Qatar, Arab Saudi dan Barat sama sekali tidak berkepentingan menegakkan perdamaian dan stabilitas di Suriah. Negara-negara ini malah mendukung pemberontak Salafi Wahabi dan ekstrimis Al-Qaeda yang selama ini aktif di wilayah itu untuk menyapu gerakan Kebangkitan Islam di Suriah (Islamic Awakening). Para pemberontak itu juga mendapat dukungan penuh Israel selama 19 bulan terakhir untuk menggulingkan pemerintah Suriah dan merusak garda perlawanan.

Bahkan, komitmen SNC gencatan senjata dengan pemerintah Bashar Assad itu dibalas oleh AS, Qatar dan Arab Saudi dengan mencampakkan SNC. Pada hari JUma’at (2/11/12), The Guardian melaporkan bahwa Inggris dan negara-negara Barat tertentu mendukung rencana Qatar untuk melibatkan Al-Qaeda dan Salafi Wahabi dalam pembicaraab tentang masa depan Suriah. Mereka tidak melibatkan pihak oposisi SNC sama sekali. Mereka juga menyambut hangat dukungan Qatar untuk mensuplai senjata lebih besar lagi bagi pemberontak Suriah diluar SNC.

Qatarlah yang pertama kali mencetuskan pembentukan Prakarsa Nasional Suriah (Syrian National Initiative) yang dituangkan dalam dokumen usulan Riad Seif. Tak pelak, rencana Qatar ini ditentang habis oleh SNC dan menyebut Syrian National Initiative itu menyerobot “revolusi Suriah”.

AS, melalui Menlu Hillary Clinton secara tegas mengatakan bahwa keputusan negaranya mengalihkan dukungan bahkan menggoyang SNC Suriah karena Washington sudah frustrasi dan menganggap SNC sudah gagal. Koran Word Tribune pada Ahad (04/11/12) menulis bahwa kekalahan demi kekalahan yang diderita Tentara Suriah Gratis, (FSA) di Aleppo adalah pukulan dan bencana bagi negara-negara pendukung Dewan Nasional Suriah. Bahkan menurut Word Tribune, yang mengutip sumber di pemerintah AS, mengatakan bahwa kekalahan itu dapat memicu penilaian ulang tentang strategi dan dukungan negara-negara pendukung pada Dewan Nasional Suriah (SNC).

Pemboman dan aksi sabotase yang dilakukan kelompok teroris beberapa hari terakhir ini jelas tidak bisa dianggap sebagai pelanggaran kemanusiaan biasa. Para teroris, utamanya Wahabi Salafi dan Al-Qaeda jelas tidak berhasrat mendirikan perdamaian di Suriah. Dan kelompok baru bikinan Qatar ini tidak diakui sebagai pihak yang layak untuk membentuk pemerintahan Suriah. Mereka tak lain adalah gerombolan Salafi Wahabi dan Al-Qaeda, warga asing kiriman AS untuk kepentingan Israel di kawasan Timur Tengah.

Kegagalan gencatan senjata pekan lalu dan maraknya pemboman hari-hari ini, jelas menguntungkan Israel dan musuh-musuh bangsa Suriah. Sementara pada saat yang sama, pasukan pemerintah Suriah dipaksa untuk tetap menahan diri, bersabar dan merespon secukupnya serangan yang dilancarkan gerombolan baru didikan Qatar, Saudi Arabia dan AS itu. [Islam Times/on]

KUMPULAN DOA
BERITA AKTUAL TENTANG SALAFI-WAHABI
KUMPULAN TULISAN TENTANG SALAFI-WAHABI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s